Mengapa Jakarta Disebut Lebih Kejam dari Ibu Tiri?
Nick Irwan
Jurnalis
Saat warga menikmati berbagai promo ulang tahun Jakarta, dari tarif transportasi Rp1 hingga akses gratis ke sejumlah museum, sebuah kalimat lama kembali muncul dalam percakapan publik, "Ibu kota lebih kejam dari ibu tiri."
SLNpost, JAKARTA – Setiap kota memiliki cerita yang melekat lebih lama daripada usia generasi yang mengucapkannya. Bagi Jakarta, salah satu yang paling dikenal adalah kalimat, “Kejamnya ibu tiri tak sekejam ibu kota.” Ungkapan itu sudah berusia puluhan tahun, namun masih sering muncul dalam percakapan, media sosial, hingga karya budaya populer.
Di usia ke-499 tahun, Jakarta terus berubah. Gedung-gedung tinggi bertambah, transportasi publik semakin terintegrasi, dan wajah kota semakin modern. Namun, pameo lama tersebut tetap bertahan, seolah menjadi bagian dari memori kolektif tentang kehidupan di ibu kota.
Kalimat itu populer melalui film Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibu Kota yang dirilis pada 1981. Film yang dibintangi Ateng dan Iskak tersebut berkisah tentang perantau yang meninggalkan kampung halaman untuk mencari kehidupan yang lebih baik di Jakarta, tetapi justru berhadapan dengan berbagai kesulitan hidup.
Meski lahir dari layar lebar, ungkapan tersebut sebenarnya merekam fenomena sosial yang lebih besar. Pada dekade 1970-an hingga 1980-an, Jakarta menjadi tujuan utama urbanisasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk Jakarta meningkat pesat sepanjang periode tersebut seiring derasnya arus perpindahan penduduk dari berbagai daerah.
Harapan mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik mendorong banyak orang datang ke ibu kota. Namun tidak semua berhasil menemukan apa yang dicari. Sebagian harus berhadapan dengan mahalnya biaya hidup, persaingan kerja yang ketat, dan keterbatasan tempat tinggal.
Fenomena urbanisasi Jakarta juga banyak dikaji dalam penelitian sosial dan perkotaan. Dalam berbagai studi yang diterbitkan oleh lembaga penelitian dan perguruan tinggi, Jakarta digambarkan sebagai magnet ekonomi nasional yang menawarkan peluang sekaligus tantangan bagi pendatang. Kota ini menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, jasa, dan industri yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Sejarawan perkotaan juga mencatat bahwa citra Jakarta sebagai kota yang keras bukanlah hal baru. Dalam berbagai kajian sejarah Batavia hingga Jakarta modern, kota ini sejak lama dikenal sebagai ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat dengan tingkat persaingan ekonomi yang tinggi. Mobilitas sosial memang terbuka, tetapi tidak selalu mudah ditempuh.
Menariknya, pameo tersebut tetap hidup meski wajah Jakarta telah banyak berubah. Data BPS menunjukkan pendapatan per kapita Jakarta masih termasuk yang tertinggi di Indonesia. Di sisi lain, berbagai laporan resmi juga menunjukkan biaya hidup di ibu kota berada di antara yang tertinggi dibanding banyak daerah lain.
Kontras inilah yang membuat kalimat tersebut terus relevan dalam percakapan publik. Jakarta menawarkan peluang besar, tetapi juga menuntut kemampuan beradaptasi yang tinggi.
Meski pembangunan Ibu Kota Nusantara terus berjalan, denyut Jakarta belum berubah. Kota ini masih menjadi pusat perputaran ekonomi nasional sekaligus tujuan jutaan orang yang datang membawa harapan untuk bekerja, belajar, dan memperbaiki kehidupan.
Ketika ulang tahun Jakarta kembali diperingati, pameo lama itu seolah mengingatkan bahwa sejarah sebuah kota tidak hanya tersimpan dalam arsip atau bangunan tua. Ia juga hidup dalam kalimat-kalimat sederhana yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dan di antara banyak kisah yang pernah lahir tentang Jakarta, mungkin tidak ada yang lebih dikenal daripada satu kalimat yang bertahan lebih dari empat dekade, “Kejamnya ibu tiri tak sekejam ibu kota.” Kalimat yang lahir dari budaya populer, tetapi kemudian menjelma menjadi salah satu potret paling terkenal tentang kehidupan di Jakarta.
Nick Irwan
Jurnalis
Jurnalis berdedikasi dengan fokus pada berita investigasi dan human interest.
Komentar (0)
Login untuk memberikan komentar
Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Kategori Terkait
Tagar Terkait
Artikel Terkait
Artikel Lainnya
Pewarna Indonesia Gelar Apresiasi dan Pagelaran Budaya di Graha PGI
12 Dec 2024, 11:07 WIB
PT. Mutiara Permai Indonesia Luncurkan Brand Baru dan Catat Pencapaian Menginspirasi
04 Nov 2024, 05:21 WIB
Ketua FKBN Pleton 1-3216 Jaya Wijaya Marunda Silaturahmi ke Kepala Kesbangpol Jakarta Utara
06 Apr 2023, 11:42 WIB
Tuntaskan Permasalahan dan Konflik Pertanahan Melalui Skema Pendekatan Humanis Kerakyatan
30 Mar 2023, 16:04 WIB
GAMKI: Prabowo dan Jokowi Contohkan Kepemimpinan Negarawan
23 Feb 2025, 05:21 WIB
Jelang Natal dan Tahun Baru, Mendag Busan Pastikan Harga Bapok Stabil dan Stok Cukup di Pasar Cihapit Bandung
21 Nov 2025, 04:20 WIB
Artikel Terkait
Artikel Lainnya
Pewarna Indonesia Gelar Apresiasi dan Pagelaran Budaya di Graha PGI
12 Dec 2024, 11:07 WIB
PT. Mutiara Permai Indonesia Luncurkan Brand Baru dan Catat Pencapaian Menginspirasi
04 Nov 2024, 05:21 WIB
Ketua FKBN Pleton 1-3216 Jaya Wijaya Marunda Silaturahmi ke Kepala Kesbangpol Jakarta Utara
06 Apr 2023, 11:42 WIB
Tuntaskan Permasalahan dan Konflik Pertanahan Melalui Skema Pendekatan Humanis Kerakyatan
30 Mar 2023, 16:04 WIB
GAMKI: Prabowo dan Jokowi Contohkan Kepemimpinan Negarawan
23 Feb 2025, 05:21 WIB
Jelang Natal dan Tahun Baru, Mendag Busan Pastikan Harga Bapok Stabil dan Stok Cukup di Pasar Cihapit Bandung
21 Nov 2025, 04:20 WIB


