Saat Komputer Tak Lagi Bergantung pada Listrik
Nick Irwan
Jurnalis
Perlombaan teknologi global sedang bergeser arah. Bukan lagi soal transistor yang lebih kecil, tetapi cahaya yang lebih cepat. Dari Shanghai, China mulai menyiapkan fondasi komputasi generasi berikutnya. Bagaimana dengan Indonesia?
SLNpost, Shanghai- Awal Juni 2026, Shanghai menjadi saksi langkah berani China dalam perlombaan teknologi global. Shanghai Key Laboratory of Integrated Photonic Computing Chips and Systems resmi diluncurkan di Universitas Jiao Tong Shanghai. Laboratorium ini merupakan yang pertama di China yang secara khusus didedikasikan untuk mengembangkan chip AI berbasis fotonik, komputasi yang memanfaatkan partikel cahaya, bukan elektron yang mengalir melalui silikon.
Sebagaimana dilaporkan South China Morning Post (12 Juni 2026) dan Interesting Engineering, fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi antara universitas dan startup lokal Lightelligence. Direktur laboratorium, Prof. Zou Weiwen, menyebut teknologi ini sebagai “jalur penting untuk mencapai terobosan daya komputasi” dengan keunggulan bandwidth, latensi rendah, dan efisiensi energi yang jauh lebih baik.
Selama puluhan tahun, komputer bekerja dengan mengalirkan elektron melalui transistor silikon. Kini, komputasi fotonik membuka kemungkinan baru, memproses dan mengirimkan data menggunakan foton (partikel cahaya) yang bergerak dengan kecepatan cahaya dan menghasilkan panas jauh lebih sedikit. Pergeseran ini muncul tepat saat industri semikonduktor mulai menghadapi batas fisik dalam meningkatkan performa chip konvensional, sementara kebutuhan komputasi AI terus meledak.
Efisiensi energi menjadi taruhan besar. Menurut laporan Energy and AI dari International Energy Agency (IEA) yang dirilis baru-baru ini, konsumsi listrik pusat data global pada 2024 sekitar 415 TWh (sekitar 1,5% dari total listrik dunia). Pada 2030, angka ini diproyeksikan lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 945 TWh, hampir setara dengan konsumsi listrik Jepang saat ini. AI menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut. Tanpa terobosan efisiensi, tagihan energi pusat data bisa menjadi beban berat bagi negara dan perusahaan.
Keunggulan fotonik tidak hanya soal hemat listrik. Sirkuit optik mampu melakukan operasi matematika kompleks, seperti perkalian matriks yang menjadi inti pelatihan model AI secara paralel dan dengan kecepatan sangat tinggi. Berbagai publikasi ilmiah menunjukkan bahwa teknologi ini berpotensi mengurangi konsumsi energi secara signifikan sekaligus mempercepat inferensi dan pelatihan model. Dampaknya terasa luas, dari komputasi awan (cloud) dan riset ilmiah berperforma tinggi, hingga jaringan 6G dan kendaraan otonom yang membutuhkan respons dalam hitungan milidetik.
Namun jalan menuju adopsi massal masih panjang. Tantangan terbesar saat ini justru berada di lapisan perangkat lunak. Arsitektur berbasis cahaya memerlukan algoritma, compiler, dan bahasa pemrograman baru yang mampu memanfaatkan paralelisme optik secara optimal. Saat ini, sebagian besar pendekatan masih bersifat hybrid, chip fotonik sebagai akselerator yang dikendalikan oleh sistem elektronik konvensional. Membangun ekosistem software yang matang membutuhkan waktu dan kolaborasi lintas disiplin.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bukan sekadar kabar dari luar negeri. Ekonomi digital Tanah Air terus melaju kencang. Berbagai proyeksi, termasuk dari lembaga riset seperti ProSpace, menempatkan nilai ekonomi digital Indonesia di atas US$130 miliar pada 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh e-commerce, fintech, cloud computing, dan adopsi AI yang semakin luas.
Kebutuhan infrastruktur pendukung pun melonjak. Saat ini Indonesia memiliki ratusan pusat data dengan kapasitas total ratusan MW. Proyeksi industri menunjukkan kebutuhan akan terus meningkat signifikan, dengan target kapasitas mencapai lebih dari 1,4 GW pada 2029. Bahkan Microsoft telah meresmikan pusat data cloud pertamanya di Indonesia, Indonesia Central Cloud Region pada Mei 2025 di Jakarta, sebagai infrastruktur siap AI.
Di tengah transisi energi nasional dan komitmen Indonesia menuju net zero emission, efisiensi energi menjadi faktor penentu daya saing. Teknologi fotonik menawarkan harapan, pusat data yang lebih hemat listrik, lebih dingin, dan lebih ramah lingkungan. Bagi pelaku industri digital, startup AI, hingga pemerintah yang tengah membangun Pusat Data Nasional (PDN), ini adalah sinyal untuk mulai mempersiapkan diri, baik dari sisi riset, pengembangan SDM, maupun kemitraan teknologi.
Peresmian laboratorium di Shanghai ini menandai bahwa perlombaan teknologi global mulai bergeser ke medan baru. Jika era komputasi sebelumnya ditopang oleh aliran listrik dan silikon, generasi berikutnya berpotensi dibangun oleh seberkas cahaya. Bagi Indonesia, pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan mengikuti, melainkan seberapa cepat kita bisa bersiap agar tidak tertinggal di tengah transformasi yang sedang berlangsung.
Nick Irwan
Jurnalis
Jurnalis berdedikasi dengan fokus pada berita investigasi dan human interest.
Komentar (0)
Login untuk memberikan komentar
Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Kategori Terkait
Tagar Terkait
Artikel Terkait
Artikel Lainnya
Terima Apresiasi atas Penerbitan KKPR Pertamina Group, Menteri Nusron: Untuk Sukseskan Ketahanan dan Swasembada Energi
14 Dec 2024, 04:21 WIB
Belajar Transformasi Digital untuk Layanan Publik yang Prima dari Negeri Kanguru
09 May 2023, 14:02 WIB
Dideklarasikan sebagai Kota Lengkap, Transaksi Hak Tanggungan Kota Tegal Capai Rp108 Miliar per Bulan
09 May 2023, 16:05 WIB
Akses KCJB Karawang Siap Rampung NATARU 2025, Menteri Nusron Pastikan Percepatan Pengadaan Tanah
22 Sep 2025, 04:39 WIB
Jelang Sidang Raya ke-XVIII PGI di Toraja, Panitia dan BPS Gereja Toraja Sampaikan Kesiapan
04 Nov 2024, 15:32 WIB
DPC dan 5 DPAC PPBNI Satria Banten Jakarta Utara Menghadiri Acara Pelantikan dan Silaturahmi serta Harlah ke 2 PPBNI
28 May 2023, 13:59 WIB
Artikel Terkait
Artikel Lainnya
Terima Apresiasi atas Penerbitan KKPR Pertamina Group, Menteri Nusron: Untuk Sukseskan Ketahanan dan Swasembada Energi
14 Dec 2024, 04:21 WIB
Belajar Transformasi Digital untuk Layanan Publik yang Prima dari Negeri Kanguru
09 May 2023, 14:02 WIB
Dideklarasikan sebagai Kota Lengkap, Transaksi Hak Tanggungan Kota Tegal Capai Rp108 Miliar per Bulan
09 May 2023, 16:05 WIB
Akses KCJB Karawang Siap Rampung NATARU 2025, Menteri Nusron Pastikan Percepatan Pengadaan Tanah
22 Sep 2025, 04:39 WIB
Jelang Sidang Raya ke-XVIII PGI di Toraja, Panitia dan BPS Gereja Toraja Sampaikan Kesiapan
04 Nov 2024, 15:32 WIB
DPC dan 5 DPAC PPBNI Satria Banten Jakarta Utara Menghadiri Acara Pelantikan dan Silaturahmi serta Harlah ke 2 PPBNI
28 May 2023, 13:59 WIB


