Iklan
Beranda / Gaya Hidup
📰 GAYA HIDUP

Tren Busana Kerja 2026: Earth Tone Makin Diminati

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

📅 10 Jul 2026
⏱️ 09:57 WIB
⏱️ 3 min read
Tren Busana Kerja 2026: Earth Tone Makin Diminati

Earth tone dan bahan adem menjadi tren busana kerja 2026. Perubahan selera ini membuka peluang baru bagi UMKM fesyen lokal menghadirkan produk yang nyaman dan bernilai

SLNpost, Jakarta — Pilihan busana kerja mulai bergeser. Jika beberapa tahun lalu warna hitam, putih, dan biru tua mendominasi ruang perkantoran, kini palet earth tone seperti olive, khaki, mocha, sage green, hingga terracotta semakin banyak dipilih pekerja profesional. Perubahan itu bukan sekadar mengikuti tren fesyen, tetapi juga dipengaruhi kebutuhan akan pakaian yang lebih nyaman digunakan sepanjang hari di negara beriklim tropis seperti Indonesia.

Fenomena tersebut membuka peluang baru bagi pelaku UMKM fesyen lokal. Sejumlah merek dalam negeri mulai merilis koleksi busana kerja berbahan ringan dengan warna-warna natural yang mengutamakan kenyamanan tanpa menghilangkan kesan profesional.

Perubahan selera konsumen ini sejalan dengan berbagai hasil penelitian mengenai hubungan warna, kenyamanan, dan produktivitas kerja. Dalam publikasi Color Research & Application, warna-warna bernuansa alam diketahui cenderung memberikan kesan tenang, hangat, dan mudah diterima secara visual sehingga banyak digunakan pada desain interior hingga pakaian kerja.

Sementara itu, The Higg Materials Sustainability Index yang dikembangkan Sustainable Apparel Coalition juga menunjukkan meningkatnya perhatian industri fesyen terhadap material yang lebih ramah lingkungan dan nyaman dipakai, termasuk katun, linen, rayon berbasis serat alami, serta campuran Tencel (Lyocell) yang memiliki kemampuan menyerap kelembapan lebih baik dibanding sejumlah serat sintetis.

Di Indonesia, kebutuhan tersebut semakin relevan. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu udara di berbagai kota besar kerap berada pada kisaran 30–35 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan tinggi. Kondisi itu membuat pemilihan bahan pakaian menjadi faktor penting bagi pekerja yang beraktivitas sejak pagi hingga sore.

Peneliti tekstil dari berbagai perguruan tinggi juga menjelaskan bahwa kain berbasis serat alami memiliki sirkulasi udara lebih baik sehingga membantu mengurangi panas tubuh saat digunakan dalam waktu lama. Karena itu, banyak produsen fesyen mulai mengombinasikan desain formal dengan material yang lebih ringan.

Di sisi lain, tren quiet luxury yang berkembang secara global turut memengaruhi pilihan busana kerja. Laporan Pinterest Predicts, WGSN, dan Pantone Color Institute menempatkan warna-warna bumi sebagai salah satu palet yang diperkirakan tetap mendominasi tren fesyen hingga 2026. Karakter warnanya dianggap lebih fleksibel dipadukan, tidak cepat usang secara visual, dan sesuai untuk berbagai situasi, mulai dari rapat formal hingga aktivitas hybrid working.

Bagi pelaku UMKM, perubahan preferensi konsumen tersebut menjadi peluang untuk menghadirkan produk dengan identitas lokal. Berbeda dengan fast fashion yang mengandalkan produksi massal, banyak brand lokal mulai menawarkan koleksi terbatas dengan pendekatan slow fashion, mengutamakan kualitas jahitan, daya tahan bahan, dan proses produksi yang lebih bertanggung jawab.

Kementerian Koperasi dan UKM mencatat sektor fesyen masih menjadi salah satu penyumbang terbesar industri ekonomi kreatif Indonesia. Kontribusinya tidak hanya berasal dari merek besar, tetapi juga ribuan UMKM yang memproduksi pakaian kerja, busana kasual, hingga modest fashion.

Momentum ini menjadi kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk menghadirkan produk yang tidak hanya mengikuti tren global, tetapi juga menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia yang hidup di iklim tropis. Koleksi busana kerja berbahan adem dengan warna-warna natural dinilai memiliki pasar yang terus berkembang, terutama di kalangan pekerja muda yang mengutamakan kenyamanan sekaligus tampilan profesional.

Bagi dunia pemasaran, perubahan tren tersebut menunjukkan bahwa konsumen kini tidak lagi membeli pakaian hanya karena modelnya. Mereka juga mempertimbangkan kenyamanan, keberlanjutan, kualitas material, dan cerita di balik sebuah produk. Di sinilah UMKM lokal memiliki ruang untuk membangun nilai tambah yang sulit ditiru oleh produk massal.

Bagikan artikel ini:

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

Jurnalis berdedikasi dengan fokus pada berita investigasi dan human interest.

Komentar (0)

Login untuk memberikan komentar

Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Kategori Terkait