Iklan
Beranda / Pemerintah
📰 PEMERINTAH

Tidak Ada Efisiensi dalam Kamus Yusuf

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

📅 27 Oct 2026
⏱️ 16:55 WIB
⏱️ 4 min read
Tidak Ada Efisiensi dalam Kamus Yusuf

Tidak ada efisiensi dalam kamus Yusuf! Strategi belanja agresif sang menteri logistik kuno ini terbukti sukses menaklukkan krisis pangan global sekaligus memberikan tamparan keras bagi delusi penghematan anggaran jangka pendek birokrasi modern

Editorial, SLNPost- Jika ada satu frasa yang paling sering didengungkan oleh para perencana kebijakan publik hari ini di tengah kepungan ketidakpastian global, frasa itu pastilah "efisiensi anggaran". Di ruang-ruang rapat birokrasi, menghemat pengeluaran saat ekonomi sedang lesu dipandang sebagai sebuah kebajikan spiritual yang wajib diimani. Namun, jika kita bersedia menengok lembaran sejarah terjauh mengenai manajemen krisis, jauh sebelum konsep makroekonomi modern dirumuskan di universitas-universitas elit Barat, kita akan mendapati bahwa juru selamat ekonomi terbesar dalam peradaban kuno justru melakukan hal yang sebaliknya. Yusuf bin Yakub, ketika diangkat menjadi menteri logistik tertinggi di Mesir, langsung menghapus kata "efisiensi" dari kamus kepemimpinannya. Baginya, menahan belanja negara dan memotong anggaran ketahanan pangan demi mengejar angka surplus di atas kertas saat masa tenang adalah bentuk kenaifan tata kelola yang paling berbahaya.

Ketika menafsirkan mimpi Firaun tentang tujuh lembu kurus yang memakan tujuh lembu gemuk, Yusuf tidak meresponsnya dengan menerbitkan nota dinas untuk memperketat ikat pinggang istana. Alih-alih mengerem belanja, ia justru meluncurkan proyek mobilisasi anggaran paling agresif pada masanya. Selama tujuh tahun masa kelimpahan, Yusuf bertindak layaknya investor yang haus ruang fiskal dengan memborong seperlima dari seluruh hasil bumi rakyat secara masif.

Anggaran negara dikuras habis bukan untuk ditumpuk di dalam brankas dinasti, melainkan untuk membangun lumbung-lumbung raksasa di setiap distrik dan menyerap komoditas riil. Logika konvensional akan menganggap keputusan membelanjakan modal secara jor-joran di masa subur sebagai sebuah pemborosan. Namun, Yusuf memahami sebuah hukum besi yang kerap dilupakan para teknokrat modern bahwa instrumen pertahanan terbaik sebuah negara di ambang krisis bukanlah tumpukan likuiditas semu, melainkan kedaulatan atas barang riil yang bisa mengenyangkan perut rakyat.

Ironi menarik dari kebijakan non-efisiensi Yusuf ini baru menampakkan taringnya ketika siklus alam berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi gersang. Saat badai kering mengubah ladang-ladang di sekitar Delta Nil menjadi debu, negara-negara tetangga yang dahulu bangga dengan laporan keuangan mereka yang hemat mendadak harus mengemis logistik ke Kairo. Mesir, yang sempat dikritik karena membuang-buang anggaran untuk membangun infrastruktur pangan skala raksasa, menjelma menjadi satu-satunya kekuatan super yang memegang kendali atas urusan perut dunia.

Lebih jauh lagi, Yusuf membuktikan bahwa ketidakpeduliannya terhadap dogma penghematan jangka pendek justru mendatangkan keuntungan finansial berkali-kali lipat di masa depan. Gandum yang disimpan dengan standar ketat bersama tangkainya, sebuah metode pascapanen kuno yang menolak pemangkasan biaya perawatan, berhasil dijual kembali secara terukur dan menyerap kembali seluruh kekayaan emas serta perak dari para pembeli domestik maupun internasional.

Paradoks sejarah ini memberikan tamparan keras sekaligus sindiran satir bagi tata kelola publik kontemporer, termasuk dalam lanskap domestik kita di Indonesia. Kita adalah bangsa yang sangat gemar merencanakan lumbung pangan mentereng seperti proyek food estate, namun selalu gagap dalam mengapresiasi peluh para petani lokal dan malas berinvestasi pada teknologi pergudangan pascapanen yang bebas dari pembusukan maupun korupsi. Saat panen raya tiba, badan pangan kita sering kali bertaji tumpul karena ruang belanja dipangkas oleh aturan harga pembelian yang kaku, membiarkan pasokan digerogoti oleh spekulan swasta. Kita terlalu pelit untuk "boros" melindungi sektor pertanian di masa tenang, tetapi selalu punya anggaran darurat yang melimpah untuk melakukan impor instan saat harga-harga di pasar mulai mencekik leher rakyat kecil. Kita sering kali terjebak dalam delusi bahwa efisiensi adalah tentang seberapa sedikit uang yang kita belanjakan hari ini, tanpa peduli seberapa mahal harga kelaparan yang harus dibayar esok hari.

Pada akhirnya, warisan terbesar dari kebijakan ekonomi Yusuf yang diakui dunia hingga detik ini adalah keberanian politik untuk mengambil risiko fiskal yang tepat di waktu yang tepat. Yusuf mengajarkan bahwa ada kalanya negara harus melepaskan jubah pelitnya dan berani berinvestasi besar-besaran demi mengamankan hajat hidup orang banyak sebelum badai benar-benar datang. Selama manajemen logistik modern kita masih disetir oleh kalkulasi elektoral jangka pendek dan ego sektoral antar-kementerian yang tumpang tindih, metode agung dari Delta Nil ini akan tetap menjadi sekadar dongeng pengantar tidur yang indah dalam simposium birokrasi. Yusuf telah lama membuktikan bahwa efisiensi yang mengebiri masa depan memang tidak pernah membuahkan kesejahteraan, yang ada hanyalah ketegasan eksekusi, ketepatan sasaran, dan keberanian untuk tidak populer demi piring nasi rakyat yang tetap terisi hingga tujuh turunan musim kering.

Bagikan artikel ini:

Nick Irwan

Nick Irwan

Jurnalis

Jurnalis berdedikasi dengan fokus pada berita investigasi dan human interest.

Komentar (0)

Login untuk memberikan komentar

Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Kategori Terkait

Tagar Terkait