Jakarta, Kota yang Berkali-kali Lahir
Nick Irwan
Jurnalis
Jakarta yang kita kenal hari ini ternyata bukan lahir sekali. Sebelum menjadi ibu kota Indonesia, kota ini telah berganti nama dari Kalapa, Jayakarta, hingga Batavia. Setiap fase menyimpan kisah perebutan kekuasaan, perdagangan, dan pertemuan berbagai peradaban. Di balik gemerlap metropolitan modern, tersimpan sejarah panjang yang menjadikan Jakarta sebagai kota yang berkali-kali lahir.
SLNpost, JAKARTA — Setiap 22 Juni, Jakarta memperingati hari jadinya. Tanggal itu merujuk pada peristiwa tahun 1527 ketika pasukan Fatahillah merebut pelabuhan Sunda Kalapa dan mengganti namanya menjadi Jayakarta. Namun sejarah kota ini sesungguhnya jauh lebih panjang daripada usia yang diperingati setiap tahun.
Berbagai penelitian menunjukkan wilayah yang kini menjadi Jakarta telah mengalami beberapa kali perubahan nama seiring pergantian kekuasaan politik dan perkembangan peradaban. Dari Kalapa, Jayakarta, Batavia, hingga Jakarta, setiap nama menandai babak berbeda dalam sejarah kota yang kini menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi Indonesia.
Penelitian arkeologi yang dipublikasikan dalam SPAFA Journal mencatat kawasan pesisir Jakarta telah dihuni manusia sejak masa prasejarah. Temuan artefak budaya Buni di sejumlah lokasi menunjukkan aktivitas permukiman di wilayah ini sudah berlangsung sejak sekitar 500 SM hingga awal Masehi.
Dalam catatan sejarah yang lebih jelas, nama Kalapa muncul sebagai pelabuhan utama Kerajaan Sunda. Pelabuhan ini menjadi titik penting perdagangan di pesisir utara Jawa dan dikunjungi pedagang dari berbagai wilayah Asia.
Naskah Portugis abad ke-16 mencatat Sunda Kalapa sebagai salah satu pelabuhan penting di Nusantara. Letaknya yang strategis membuat kawasan tersebut menjadi jalur perdagangan yang ramai bagi komoditas lada dan hasil bumi lainnya.
Perubahan besar terjadi pada 1527 ketika pasukan yang dipimpin Fatahillah menguasai pelabuhan tersebut. Sejumlah sumber sejarah, termasuk arsip Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, menyebut nama Sunda Kalapa kemudian diganti menjadi Jayakarta, yang berarti kemenangan yang sempurna atau kota kemenangan. Tanggal kemenangan itu kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Jakarta.
Nama Jayakarta bertahan hingga awal abad ke-17. Pada 1619, VOC yang dipimpin Jan Pieterszoon Coen menghancurkan kota tersebut dan membangun pusat administrasi kolonial baru bernama Batavia. Sejarawan menyebut Batavia menjadi salah satu kota kolonial terpenting di Asia pada masanya. Dari kota inilah VOC mengendalikan jaringan perdagangan rempah-rempah yang membentang dari Nusantara hingga Eropa.
Menurut data Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Batavia berkembang menjadi kota multietnis yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang, mulai dari Jawa, Sunda, Bugis, Ambon, Bali, Arab, India, hingga Tionghoa. Keberagaman itu menjadi salah satu fondasi pembentukan identitas Jakarta modern.
Perubahan nama kembali terjadi saat pendudukan Jepang pada 1942. Pemerintah militer Jepang mulai menggunakan nama Jakarta Tokubetsu Shi atau Jakarta Kota Istimewa. Setelah Indonesia merdeka, nama Jakarta kemudian dipertahankan dan digunakan secara resmi hingga sekarang.
Meski demikian, jejak nama-nama lama masih dapat ditemukan di berbagai sudut kota. Pelabuhan Sunda Kelapa tetap beroperasi sebagai pelabuhan tradisional. Kawasan Kota Tua menyimpan bangunan peninggalan era Batavia. Sementara nama Jayakarta masih digunakan pada sejumlah jalan, institusi, hingga kawasan bisnis.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Jakarta saat ini dihuni lebih dari 10 juta penduduk. Angka itu menjadikannya salah satu kawasan metropolitan terbesar di Asia Tenggara.
Di balik kepadatan dan modernisasi yang terlihat hari ini, Jakarta menyimpan lapisan sejarah yang terbentuk selama berabad-abad. Pergantian nama yang dialaminya bukan sekadar perubahan administratif, melainkan penanda perubahan kekuasaan, jaringan perdagangan, dan dinamika masyarakat yang terus membentuk wajah kota hingga sekarang.
Peringatan ulang tahun Jakarta tidak hanya berbicara tentang usia sebuah ibu kota. Ia juga menjadi pengingat bahwa kota ini lahir dari perjalanan sejarah panjang yang melibatkan berbagai bangsa, budaya, dan peradaban.
Nick Irwan
Jurnalis
Jurnalis berdedikasi dengan fokus pada berita investigasi dan human interest.
Komentar (0)
Login untuk memberikan komentar
Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Kategori Terkait
Tagar Terkait
Artikel Terkait
Artikel Lainnya
Nusron Wahid Masuk Daftar Menteri dengan Kinerja Terbaik Versi RODA Institute
24 Feb 2025, 13:29 WIB
Didi Suryadi: Generasi Muda Indonesia Berada dalam Situasi Darurat Wawasan Kebangsaan
10 Aug 2024, 11:38 WIB
Menteri AYH Resmikan SPARTAN Command Center dan Tegaskan Komitmen Berantas Mafia Tanah
19 Oct 2024, 13:22 WIB
Cegah Guantibmas, Patroli Malam Dilaksanakan Polsek Kep. Seribu Selatan
07 Feb 2023, 03:45 WIB
Menteri Nusron Serahkan Sertifikat di Papua: Era Presiden Prabowo Semua Tempat Ibadah Harus Disertifikatkan Tanpa Pengecualian
21 Nov 2025, 04:36 WIB
Cegah Guantibmas, Patroli Malam Presisi Dilaksanakan Jajaran Polsek
13 Feb 2023, 11:45 WIB
Artikel Terkait
Artikel Lainnya
Nusron Wahid Masuk Daftar Menteri dengan Kinerja Terbaik Versi RODA Institute
24 Feb 2025, 13:29 WIB
Didi Suryadi: Generasi Muda Indonesia Berada dalam Situasi Darurat Wawasan Kebangsaan
10 Aug 2024, 11:38 WIB
Menteri AYH Resmikan SPARTAN Command Center dan Tegaskan Komitmen Berantas Mafia Tanah
19 Oct 2024, 13:22 WIB
Cegah Guantibmas, Patroli Malam Dilaksanakan Polsek Kep. Seribu Selatan
07 Feb 2023, 03:45 WIB
Menteri Nusron Serahkan Sertifikat di Papua: Era Presiden Prabowo Semua Tempat Ibadah Harus Disertifikatkan Tanpa Pengecualian
21 Nov 2025, 04:36 WIB
Cegah Guantibmas, Patroli Malam Presisi Dilaksanakan Jajaran Polsek
13 Feb 2023, 11:45 WIB


