Panggung di Atas Pundak yang Lelah
Elly Wati Simatupang
Jurnalis
suaralintasnusantara.com - Di sebuah bukit, ribuan orang datang dengan perut kosong. Mereka hadir untuk menyaksikan, mendengar, menerima. Hanya seorang anak kecil yang membawa bekalnya, lima roti dan dua ikan, sebuah beb...
suaralintasnusantara.com - Di sebuah bukit, ribuan orang datang dengan perut kosong. Mereka hadir untuk menyaksikan, mendengar, menerima. Hanya seorang anak kecil yang membawa bekalnya, lima roti dan dua ikan, sebuah beban kecil di pundaknya yang justru menjadi awal dari segala solusi.
Itulah ironi yang sering terulang dalam kerja kreatif: panggung kesuksesan dibangun di atas pundak-pundak yang lelah, pundak segelintir orang yang berani membawa bekal mereka, sekecil apa pun. Sementara yang lain datang dengan tangan kosong, hanya siap menyambut hidangan, mengkritik rasa, atau bahkan menolak berbagi piring.
Ketika bekal kecil itu akhirnya jadi berkat bagi ribuan orang, reaksi yang muncul justru bukan ucapan terima kasih. “Dia cuma mau pamer,” bisik sebagian. Ini adalah mekanisme pertahanan klasik: defensive projection. Mereka yang tak berkontribusi merasa tersinggung oleh keberanian si pemberi, lalu melindungi ego mereka dengan menyerang niat baiknya.
Dan ketika segala sesuatunya berhasil, muncul tuduhan lebih keji: “Kita ini cuma kelinci percobaan!” Inilah puncak dari playing victim memutar narasi seolah-olah mereka yang tak berkontribusi justru adalah pihak yang “dikorbankan”. Mereka menikmati hasil, tetapi segera menjauh ketika ada risiko, sambil menyalahkan pemberi kontribusi sebagai “eksperimentalis” yang egois.
Anak kecil di bukit itu tidak berbicara tentang kelelahan. Ia hanya memberi. Yesus pun tidak memuji jumlah bekalnya, tetapi menghargai keberaniannya untuk menaruh sesuatu di atas meja dan bersedia membawanya di pundaknya.
Dalam dinamika tim, seringkali yang paling vokal bukanlah yang paling lelah. Yang paling lelah justru mereka yang diam yang memikul ide awal, draft pertama, atau inisiatif kecil yang kemudian dievaluasi, dikritik, atau dianggap “eksperimen gagal” oleh orang-orang yang dari awal menikmati panggung.
Panggung memang indah dilihat dari bawah. Tapi beban panggung itu ditahan oleh pundak yang lelah, pundak yang tidak hanya membawa roti dan ikannya sendiri, tetapi juga menghadapi bisikan-bisikan dari kerumunan yang hanya ingin kenyang.
Maka, sebelum menyebut diri “korban” atau menuduh orang lain “pamer”, tanyakan: apakah pundak Anda juga lelah karena telah membawa sesuatu? Atau justru lelah karena terlalu lama mengangguk, mengkritik, dan menunggu diberi makan? Keberanian sesungguhnya bukan pada membawa beban besar, tetapi pada kesediaan untuk merasakan lelahnya pundak dan tetap maju. (Nick)
Elly Wati Simatupang
Jurnalis
Pendiri Suara Lintas Indonesia
Komentar (0)
Login untuk memberikan komentar
Silakan login terlebih dahulu untuk memberikan komentar pada artikel ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Kategori Terkait
Artikel Terkait
Artikel Lainnya
Dokumen Pertanahan Elektronik Diharapkan Jadi Alat Bukti di Pengadilan, Sekjen ATR/BPN: Integritas Akan Kami Pastikan
30 Nov 2024, 04:17 WIB
PGI Kecam Aksi Intoleransi di Cidahu Sukabumi: Pelanggaran HAM dan Konstitusi
01 Jul 2025, 05:39 WIB
Kemendag Bidik Lonjakan Ekspor Lewat TEI 2026
12 Jun 2026, 13:48 WIB
Partai yang Terlalu Serius
18 Jun 2026, 19:22 WIB
Kejagung Lakukan Penahanan Terhadap 6 Tersangka Korupsi Dana DP4
09 May 2023, 14:53 WIB
Berhasil Pertahankan Predikat Badan Publik Informatif, Kementerian ATR/BPN Raih Peringkat ke-4 secara Nasional
20 Dec 2024, 14:27 WIB
Artikel Terkait
Artikel Lainnya
Dokumen Pertanahan Elektronik Diharapkan Jadi Alat Bukti di Pengadilan, Sekjen ATR/BPN: Integritas Akan Kami Pastikan
30 Nov 2024, 04:17 WIB
PGI Kecam Aksi Intoleransi di Cidahu Sukabumi: Pelanggaran HAM dan Konstitusi
01 Jul 2025, 05:39 WIB
Kemendag Bidik Lonjakan Ekspor Lewat TEI 2026
12 Jun 2026, 13:48 WIB
Partai yang Terlalu Serius
18 Jun 2026, 19:22 WIB
Kejagung Lakukan Penahanan Terhadap 6 Tersangka Korupsi Dana DP4
09 May 2023, 14:53 WIB
Berhasil Pertahankan Predikat Badan Publik Informatif, Kementerian ATR/BPN Raih Peringkat ke-4 secara Nasional
20 Dec 2024, 14:27 WIB


